Facebook Menjadi “Taman Makam” Sekaligus “Jiwa Digital” Abadi

by Lintang Sunu 293 views0

Tanggal 7 Desember 2014 adalah ulang tahun salah satu friendlist saya, Prof. Sudikno Mertokusumo, seorang profesor hukum di Universitas Gajah Mada. Beliau juga pernah menjabat sebagai Kepala Pengadilan Negeri Bandung dan Kepala Pengadilan Negeri Yogyakarta. Kendati seorang profesor, beliau sangat ramah kepada teman-teman Facebooknya yang memberikan komentar, termasuk saya yang beberapa kali berkomentar di status beliau menurut saya sangat berbobot. Ya, status seorang profesor.

Betapa terkejutnya saya ketika saya mendapatkan reminder tentang ulang tahun beliau dan saya memberikan ucapan selamat ulang tahun, namun dijawab bahwa beliau sudah tidak ada sejak 2 tahun sebelumnya. Ucapan tersebut akhirnya saya hapus demi menghormati beliau.

Kawan saya, Azil Febriana Soca, mahasiswa STIE di Bogor, telah pergi untuk selamanya pun masih mendapatkan ucapan selamat dari teman-temannya. Ucapan ulang tahun pun masih tetap ada, bahkan setelah dua tahun kepergiannya.

Azil, yang telah tiada, dalam beberapa kasus, masih "hidup"
Azil, yang telah tiada, dalam beberapa kasus, masih “hidup”

Dua tahun setelah kepergiannya, saya lihat-lihat postingan terakhir yang mengatakan “Kesempatan itu ngak datang dua kali, kalau sudah datang ngak perlu itunda2 lagi. ‪#‎akurapopo“.

Saya lihat foto-fotonya. Banyak di antaranya bersama teman-teman kuliahnya, karena memang statusnya mahasiswa semester akhir. Lalu saya gulung halaman itu kembali ke atas.

Menurut Facebook, Azil kuliah di STIE Pandu Madania Bogor dan tinggal (lives) di Bogor.

Tetap hidup (lives) padahal sudah dua tahun lebih meninggalkan dunia
Tetap hidup (lives) padahal sudah dua tahun lebih meninggalkan dunia

Lives? Masih hidup?

Dia tidak tinggal di mana-mana lagi. Dia telah pergi.

Tetapi seandainya Anda tidak menggulung layar ke bawah di halaman Facebook-nya, Anda mungkin tak akan pernah tahu jika Azil telah tiada.

Dia masih ada, dalam beberapa kasus, masih hidup. Dia ada …. di sini. Di Facebook.

Saya ingat beberapa malam sebelum ia meninggal, kami lembur bersama untuk menata soal Try Out UN SMK se-Kabupaten Bogor. Tertawa, nyanyi-nyanyi, dan tertawa. Tetapi kini ia telah tiada.

Mengamati fenomena ini adalah sesuatu yang aneh. Dia pernah ada, orang yang saya kenal, orang yang saya ajak bercanda, tertawa bersama, bekerja bersama, namun kini ia telah tidak ada lagi.

Sementara, ada mesin lain yang tetap menjaganya tetap hidup, sebuah server komputer yang jauhnya puluhan ribu mil yang menyimpan semua pemikirannya, kenangan-kenangannya.

Dikutip dari bbc.com, jumlah kematian di Facebook tumbuh begitu cepat. Pada tahun 2012, hanya 8 tahun setelah platform jejaring sosial ini diluncurkan, sudah ada 30 juta pengguna Facebook yang telah meninggal dunia. Beberapa estimasi mengklaim bahwa ada sekitar 8.000 pengguna Facebook yang meninggal dunia setiap harinya.

Dan bahkan pada satu waktu nanti, akan lebih banyak pengguna Facebook yang telah meninggal dibandingkan yang masih hidup. Facebook akan menjadi taman makam digital yang terus bertumbuh dan tak terhentikan, sekaligus jiwa digital yang akan abadi selamanya.

Banyak profil Facebook yang mengumumkan pemiliknya telah meninggal dunia dan mereka “dikenang”. Profil tersebut dihiasi dengan kata “mengenang,” dan akun-akun itu berhenti muncul di ruang publik, seperti Orang Yang Mungkin Anda Kenal (People You Mayu Know) atau pengingat ulang tahun.

Tetapi tidak semua orang yang telah meninggal diperingati.

Media sosial telah mengajarkan kepada kita kekuatan tentang momen, yakni menghubungkan kita dengan orang-orang dari seluruh penjuru dunia. Namun, ada hal yang perlu dipertimbangkan apa yang akan terjadi setelah semua itu: warisan kita.

Biasanya hanya orang-orang tertentu yang diberi warisan, baik bentuk karya, tulisan, atau bentuk-bentuk lainnya. Namun teknologi digital telah mengubah itu semua. Kini hampir semua pengguna Facebook menghabiskan berjam-jam setiap minggunya, yakni lebih dari 12 jam menurut survey terbaru, untuk menuliskan otobiografinya. Otobiografi yang kita tulis akan diwariskan ke banyak orang, dan kita akan tetap “hidup selamanya.”

Kita mungkin merasa bahwa rekaman media sosial publik sebagai satu jenis jiwa digital. Mereka yang mengamati akun Facebook saya mengetahui apa keyakinan agama saya, pandangan politik saya, kecintaan saya pada pasangan saya, selera kesusasteraan saya, dan sebagainya. Jika esok saya meninggal dunia, jiwa digital saya akan tetap ada.

Beberapa tahun silam, beberapa perusahaan teknologi telah merambah kepada gagasan tentang jiwa digital. Eterni.me,  berjanji untuk menciptakan versi digital dari diri “Anda” yang akan tetap hidup setelah kematian Anda. Kematian adalah sesuatu yang pasti, tetapi bagaimana jika Anda bisa hidup selamanya sebagai avatar digital, “dan orang-orang masa depan bisa benar-benar berinterakasi dengan kenangan-kenangan Anda, kisah-kisah Anda, gagasan-gagasan Anda, dan semuanya yang bahkan seolah mereka sedang berbicara dengan Anda?”

Eternmi.Me: "Siapa yang Ingin Hidup Selamanya?"
Eternmi.Me: “Siapa yang Ingin Hidup Selamanya?”

Jika program seperti Eterni.me berhasil, tidak hanya buyut dan cicit-cicit saya yang akan mempelajari kehidupan saya, bahkan jika mereka mau, mereka bisa menanyai avatar saya, “kakek buyut” digital mereka yang pintar, dan mereka akan mendapatkan jawaban-jawaban dari saya sama seperti jawaban yang saya berikan seandainya pertanyaan itu dilontarkan kepada saya saat saya masih hidup.

Tinggalkan Komentar