ISIS Ciptakan Program Aplikasi Perpesanan Sendiri

by Lintang Sunu 468 views0

 

Setelah ditendang dari program aplikasi perpesanan Whatsapp, Telegram, dan messenger lain, ISIS ciptakan program aplikasi perpesanan sendiri yang disebut “Alwari.” Seperti dilansir Tech Crunch, program aplikasi ciptaan ISIS yang disebut “Alwari” ini adalah sebuah program aplikasi perpesanan yang terenkripsi sehingga pemerintah dan badan-badan intelijen asing kesulitan untuk memata-matai kegiatan terorisme. Program ini ditemukan oleh jaringan kontra terorisme yang dikenal sebagai Ghost Security Group.

Meskipun tidak secanggih Whatsapp maupun Telegram dalam hal keamanannya, namun Alwari masih mampu melindungi dari penyadapan teks-teks yang mereka kirimkan ke satu sama lain. Dan tanpa adanya perusahaan yang memiliki reputasi yang jelas di belakang Alwari, maka tidak ada yang memblokir ISIS dalam menggunakan Alwari.

Alwari bukanlah program pertama kali yang telah dibuat oleh ISIS untuk aplikasi perpesanan mereka. Bulan lalu, Ghost Security Group menemukan bahwa para anggota ISIS menggunakan Telegram untuk mengunduh program propaganda yang disebut Amaq Agency. Ketika program prograganda itu dikendalikan ISIS, Amaq Agency “menyediakan layanan streaming berita dan vide0-video yang berisikan pesan-pesan propaganda ISIS termasuk eksekusi, serangan-serangan, dan juga pidato-pidato propaganda lainnya.”

Sampai saat ini, seberapa canggih teknologi Alwari masih belum jelas. Kendati program aplikasi perpesanan milik ISIS ini tidak secanggih Whatsapp atau Telegram, namun siapapun yang menciptakan program tersebut memastikan bahwa pesan-pesan yang dikirim terproteksi. Tidak seperti halnya program aplikasi Android, Alwari tidak dapat diunduh dengan mengunjungi Google Play. Alwari hanya bisa didownload melalui kode yang harus dimiliki bersama.

Amerika Serikat bersama sekutunya saat ini sedang mendisikusikan gagasan “pintu belakang” ke dalam beberapa software enkripsi, yang pada dasarnya adalah mencari cara yang memungkinkan pemerintah AS dan pemerintah lain mengakses informasi yang dikirim via enkripsi.

Direktur FBI, James Comey, telah mendorong perdebatan kaitannya fitur-fitur ini. Namun, perdebatan itu mungkin menjadi sesuatu yang tidak relevan jika tidak ada kemampuan menciptakan pintu belakang terlebih dahulu ketika FBI berusaha memantau cara-cara ISIS berkomunikasi melalui teknologi dengan cara yang aman tersebut.  Kemampuan ISIS untuk menggunakan teknologi tidaklah mengherankan, namun sebagian pengamat militer dunia menganggap seharusnya kemampuan itu bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Dan pada poin inilah perlunya pembahasan mengenai privasi, pintu belakang dan melancarkan misi penyadapan Alwari.

Kemampuan ISIS ciptakan program aplikasi perpesanan sendiri ini cukup mengejutkan dunia, kendati agen-agen rahasia dunia tak cukup terkejut. Sebagian pengamat menganggap bahwa kemampuan sebagian tentara ISIS yang bergabung secara sukarela memang berasal dari para akademisi, profesional, dan ahli dar berbagai disiplin ilmu, termasuk komputer dan enkripsi data.

Ilustrasi: www.lawstreemedia.com

Tinggalkan Komentar